Menjelang nisfu sya’ban. tepatnya malam jum’at, Rombongan PP. Nurul Ilmi Bogor, tiba di pesantren Al-Amien Prenduan. Rombongan yang dipimpin oleh KH. Faisal Muhammad Ali Nurdin, Lc, MA ini beranggotakan 38 orang. Terdiri dari, 2 Kiai, empat pendamping putra dan tiga pendamping putri, serta 16 santri putra dan 10 Santri putri. Dalam dua hari kedepan, mereka akan “mondok” di PP. Al-Amien Prenduan.
Acara penyambutan, dilaksanakan dipagi hari, bertempat di auditorium RASDA, KH. Moh. Khoiri Husni, Pengasuh MTA Al-Amien, sekaligus anggota majlis kiai, menyambut langsung rombongan PP. Nurul Ilmi. Turut hadir dalam acara penyambutan, sekaligus memberikan tausiyah, Wakil pimpinan dan pengasuh PP. Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris.
Acara dimulai, dengan sambutan oleh KH. Khoiri Husni, dalam sambutannya, beliau tampak haru “…Al-Amien dimasa pendiriannya, masih jauh dari kata layak. Tidak ada listrik, mandipun, harus mencari sumur dan “menimba”. Pun, ketika kami harus belajar. pondok harus meminjam serambi rumah tetangga untuk bisa memulai melaksanakan pendidikan, Maka saya sangat bersyukur… guru kami, hadir disamping kami” terlihat, Kiai Zainuddin menangis disamping beliau, terdengar suara Kiai Khoiri bernada parau, menahan emosi. “…tanpa guru-guru kami, kami tidak akan seperti ini, dan mungkin kami tidak akan disini”, sesekali terlihat Kiai Zainuddin menitikkan air mata.
Acara berjalan khidmah, santri-santriwati tampak terbawa dalam suasana khidmah reuni guru dan santri ini. Sambutan kedua, mewakili rombongan disampaikan langsung oleh ketua rombongan sekaligus, pengasuh PP. Nurul Ilmi, Bogor. KH. Faisal Muhammad Ali Nurdin, Lc, MA. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pengharagaan dan penghormatan kepada PP. Al-Amien Prenduan, khususnya para majlis kiai, atas sambutan dan penghormatan yang luarbiasa.
Acara berlanjut dengan sambutan/tausiyah yang disampaikan oleh Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris, MA. Dalam sambutannya, beliau memaparkan sejarah masa-masa awal pendirian PP. Al-Amien Prenduan “…kita harus pinjam serambi rumah tetangga untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar, kiai zainuddin ini adalah saksi hidup yang membantu pondok pesantren kita ini, berdiri pada masa-masa yang paling awal.” terlihat kiai Zainuddin menitikkan airmata. “Tapi poinnya, bukan hanya disitu” lanjtu beliau, “saya kira, sebab yang paling penting dari perjuangan, jihad dijalan Allah itu, sebetulnya bukan pada posisi yang kita hadapi, tapi bagaimana sikap kita terhadap kondisi yang ada dihadapan kita. Orang bisa sesat karena dia miskin, tapi orang bisa sesat karena dia kaya.”
Beliau juga menceritakan betapa pengorbanan para masyayikh, begitu luarbiasa. Beliau menceritakan, bagaimana Almagfurlah Kiai Tidjani, menolak jabatan prestisius di Rabithah alam islamiyah dan memilih kembali ke prenduan. iming-iming jabatan, tempat dan gajii yang nyaman tidak meluluhkan tekad beliau untuk kembali ke Pesantren, berjuang dan membesarkan pesantren.
Pun halnya, dengan Almaghfurlah Kiai Idris, “…beliau ini, sebetulnya, orang yang punya hasrat tinggi untuk melanjutkan studi, tapi sampai akhir hayat beliau, tidak pernah menempuh pendidikan formal sampai akhir hayat beliau”. dawuh kiai Ghozi, terdengan suara beliau bergetar. “ketika dipamekasan dulu, tahun 1980an dibuka perguruan tinggi cabang dari IAIN Surabaya, banyak guru-guru kita yang kuliah disana, beliau juga punya keinginan untuk juga kuliah”. Lanjut beliau. “Beliau pamit, ke KH. Imam Zarkasyi di Gontor, Pak Zar… saya ingin kuliah. ilmu saya ini, ingin saya tambah agar saya bisa mengelola pondok dengan cara yang lebih baik, kata beliau, beliau pamit sama pak Zar”, suara beliau bergetar, sesekali terlihat beberapa audieni menitikkan airmata. “Pak zar kemudian, bilang kepada beliau, Idris pilih salah satu dari dua hal ini, kamu kuliah dan pondok kamu hancur, atau kamu tetap tidak kuliah, konsisten mengelola pondok dari dalam dan pondok kamu inshaallah akan maju. kemudian kiai zarkasyi menasehatkan untuk memilih yang kedua.”
Acara ditutup dengan doa, yang dipimpin langsung oleh KH. Zainuddin. LatePost (Jum’at,19 April 2019).
Share via