Kuliah Umum Kemasyarakatan: Bekal Santri Menghadapi Liburan

Kuliah Umum Kemasyarakatan: Bekal Santri Menghadapi Liburan

Al-Amien Prenduan (31/8) – Malam ini, pukul 19.30 WIB bertempat di Masjid Jami Al-Amien Prenduan, dilaksanakan pembukaan Kuliah Umum Kemasyarakatan yang diikuti oleh seluruh santri TMI, Tahfidh, dan mahasiswa UNIA. Acara ini resmi dibuka oleh Ayahanda Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris, MA.

Dalam pembukaan, beliau mengawali dengan menyinggung kondisi bangsa Indonesia beberapa hari terakhir yang tengah menghadapi gejolak sosial. Demonstrasi terjadi di berbagai daerah, bahkan beberapa gedung dibakar dan dirusak, salah satunya Gedung Grahadi Surabaya yang merupakan salah satu gedung bersejarah. Ada korban yang berjatuhan, dan semua itu membawa biaya sosial yang sangat besar.

“Kita berdoa. Semoga Allah menyelamatkan kita semua, menyelamatkan bangsa kita ini dari segala unsur yang merusak. Amien…” dawuh beliau dengan penuh harap.

Dr. KH. Ghozi Mubarok, kemudian menegaskan bahwa akar dari semua peristiwa ini adalah masalah akhlak. Dari lisan yang tidak terjaga, lalu muncul reaksi destruktif, hingga berujung pada kerusakan yang lebih besar. Untuk menguatkan hal ini, beliau mengutip bait syair penyair Mesir, Ahmad Syauqi Bek:

إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ # فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

“Sesungguhnya suatu bangsa itu hidup selama akhlaknya tetap ada. Apabila akhlak mereka hilang, maka hilanglah pula bangsa itu.”

Selanjutnya, Beliau menyampaikan materi inti kuliah umum dalam pembukaan ini tentang “Memaknai Liburan” dengan mengajukan pertanyaan mendasar: (1) Apakah liburan itu tujuan atau alat?. dan (2) Bagaimana menjadikan Liburan ini baik dan mulia?

“Liburan itu adalah alat” dawuh beliau menegaskan. “… bukan tujuan. Adapun tujuan dari liburan , ada empat: Pertama, refreshing atau penyegaran diri; Kedua, tholabul ‘ilm, jangan pernah berhenti belajar meskipun berada di rumah, sebab di pondok belajar di kelas dan asrama, sementara di rumah belajar bermasyarakat; ketiga, berdakwah; dan keempat, menjadi duta-duta Pondok di tengah masyarakat,” jelas beliau.

Beliau juga menekankan bahwa agar liburan menjadi baik dan mulia, setidaknya ada tiga prinsip yang harus dijaga:

  1. Salaam (Selamat). Liburan harus selamat dari keburukan, maksiat, dan hal-hal yang merusak. Untuk itu, niat dan pergaulan harus dijaga, karena seseorang terjebak dalam maksiat biasanya karena dorongan diri sendiri atau pengaruh lingkungan.

  2. Nafi’ (Bermanfaat). Liburan harus memberi manfaat, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. “Jangan jadi tamu di rumah sendiri,” pesan beliau. Rasulullah pun menegaskan bahwa seseorang dinilai baik jika orang-orang terdekatnya bersaksi bahwa ia baik.

  3. Mubaarok (Berkah). Yaitu kebaikan yang terus bertambah dan berkesinambungan.

“Itulah sebabnya kita melaksanakan Kuliah Umum Kemasyarakatan ini, agar kalian memiliki bekal menghadapi liburan,” pungkas KH. Ghozi Mubarok, mengakhiri paparan.

Kuliah Umum Kemasyarakatan ini akan berlangsung selama dua hari ke depan, dan insyaAllah ditutup pada hari Selasa (2/9) ba’da Isya

Share via

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home
Contact
PSB
Login

Subscribe to Our Newsletters

Jangan lewatkan update terbaru dari kami ! 📩 Subscribe sekarang untuk mendapatkan konten eksklusif, tips bermanfaat, dan info terbaru ke inbox Anda