Belajar untuk Ilmu, Bukan Sekadar Ujian; Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris Buka Ujian Lisan Santriwati Tahfidz Al-Amien

Belajar untuk Ilmu, Bukan Sekadar Ujian; Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris Buka Ujian Lisan Santriwati Tahfidz Al-Amien

Tahfidh Putri – Suasana khidmat menyelimuti pembukaan Ujian Lisan Semester Genap Santriwati Tahfidz Al-Amien, Selasa (30/6). Bertempat di lokasi pembukaan ujian, seluruh peserta mengikuti rangkaian acara dengan penuh perhatian sebelum memasuki masa ujian yang akan berlangsung selama tiga hari, hingga Kamis (2/7/2026).

Membuka kegiatan secara resmi, Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris, M.A., menegaskan bahwa ujian di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien tidak boleh dipahami semata sebagai alat untuk mengukur hasil belajar. Lebih dari itu, ujian merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri.

…Bagi pondok kita, ujian adalah untuk belajar, bukan belajar untuk ujian,” tegas beliau di hadapan seluruh peserta.

Menurut beliau, paradigma tersebut menjadi pembeda utama sistem pendidikan pesantren. Ujian bukan sekadar momentum memperoleh nilai, melainkan sarana menempa kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, serta memperdalam penguasaan ilmu. Karena itu, setiap santriwati diharapkan mengikuti seluruh rangkaian ujian dengan kesungguhan dan keseriusan.

Dalam tausiyahnya, beliau juga mengingatkan agar para santriwati memanfaatkan setiap kesempatan belajar secara optimal, sehingga setiap ujian benar-benar menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan peningkatan kualitas diri.

Pada bagian berikutnya, Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris, M.A. mengangkat tema manajemen waktu. Beliau mengawali pembahasannya dengan mengutip dawuh almarhum KH. Maktuk Jauhari, M.A., yang pernah menyoroti tradisi belajar sebagian santri Al-Amien Prenduan yang kuliah di Al-Azhar Cairo pada masanya. Saat itu, dawuh beliau, masih banyak santri yang belum memiliki budaya belajar yang baik sehingga ketika ujian tiba, pilihan yang diambil adalah belajar secara terburu-buru, sistem SKS atau “system kebut semalam“.

Fenomena tersebut kemudian beliau hubungkan dengan teori Matriks Eisenhower, sebuah konsep manajemen waktu yang membagi aktivitas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya. Menurut Kiai Ghozi, belajar semestinya tidak pernah berubah menjadi pekerjaan yang sekaligus penting dan mendesak apabila dilakukan secara konsisten sejak awal.

“… Orang yang pintar membagi waktu, biasanya me-manaj waktu sedemikian rupa, sehingga yang penting-penting tidak selalu menjadi mendesak. Jadi, Semua hal yang berkaitan dengan belajar, seharusnya tidak menjadi penting-mendesak, jika kita mampu me-manaj waktu dengan baik,” Dawuh Beliau.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam pendidikan tidak lahir dari kebiasaan belajar menjelang ujian, melainkan dari disiplin menjaga ritme belajar setiap hari. Dengan manajemen waktu yang baik, tekanan menjelang ujian dapat diminimalkan, sementara proses memahami ilmu berlangsung lebih mendalam dan berkelanjutan.

Ujian Lisan Semester Genap Santriwati Tahfidz Al-Amien tahun ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (30/6) hingga Kamis (2/7/2026). Selama pelaksanaan ujian, para santriwati akan mengikuti Ujian Lisan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, yang dihimpun dari berbagai materi yang menjadi bagian dari evaluasi capaian pembelajaran semester, sekaligus menjadi sarana pembinaan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagaimana nilai-nilai yang selama ini ditanamkan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Share via

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home
Contact
PSB
Login

Subscribe to Our Newsletters

Jangan lewatkan update terbaru dari kami ! 📩 Subscribe sekarang untuk mendapatkan konten eksklusif, tips bermanfaat, dan info terbaru ke inbox Anda