Al-Amien Prenduan, Tahfidh Pa – Hari ini, Kamis (9/1) seba’da shalat ashar, Pesantren Tahfidh Al-Qur’an Al-Amien, melaksanakan kuliah tamu, dengan menghadirkan K. Alifuddin, SQ., SH.I., SH., Pengasuh PPTQ Alif Multazim Bilquran, Senduro Lumajang. Beliau juga merupakan alumni Al-Amien Prenduan Tahun 2002, membagikan pengalaman dan motivasi kepada sleuruh santri tahfidh bagaimana kiat sukses menghafal Al-Quran, tidak sekedar khatam namun juga lancar.
Acara ini bertempat di Majelis Tahfidh Al-Amien, dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dipandu oleh Ust. Akh Habibi Walidil Kutub, M.Pd sebagai Moderator.

Beliau mengawali pembahasan dengan pertanyaan, “menghafal, mudah atau sulit?, yang selanjutnya dijawab secara serentak oleh para santri, “Mudah!”. Kemudian beliau melanjutkan, “Murajaah, itu mudah atau sulit?”, serentak para santri menjawab “Sulit”. Maka beliau memberi respon, “Salah Nak! mengapa murajaah menjadi sulit? Jika kita hafal, dan benar-benar hafal, maka seharusnya murajaah itu mudah”, tegas beliau. “Jadi… jika kalian merasa bahwa murajaah itu sulit, berarti ada yang salah dengan proses menghafal kalian”, lanjut beliau penuh ketegasan.

Paparan dilanjutkan dengan dinamika santri menghafal alquran, mulai dari mereka yang hafal, lancar saat setor, namun kemudian berangsur buyar ketika beranjak dari tempat tasmi. santri yang cepat menghafal, satu halaman bisa dihafal dalam 30 menit misalnya, namun selama 4 tahun di Tahfidh baru hafal 9 juz, dan seterusnya. Beliau juga menggali secara acak, apa kesulitan santri dalam menghafal. Yang pada kesimpulannya, tidak tercapainya target hafalan, tidak bisanya kita khatam Al-Qur’an 30 juz dengan mutqin, bukan karena kita tidak mampu, namun karena malas. Beliau kemudian memberi tips menghadapi rasa malas, “ingin tahu kuncinya?” Terang beliau. “Paksakan! Ketika malas datang, jangan ikuti, paksa diri kita terus menghafal”. ucap beliau.
Penjelasan dan motivasi yang disampaikan, ditutup dengan tiga pertanyaan dari santri, beberapa pertanyaan yang sempat terdokumentasikan, adalah Apakah yang harus saya lakukan, saya memiliki cita-cita utama menjadi penghafal quran, namun disaat yang sama, saya bercita-cita memiliki profesi atau kecenderungan akademik yang mungkin tidak berhubungan dengan Al-Qur’an, misal jadi pilot, dokter dan seterusnya, apa yang harus kami lakukan?.
Pertanyaan ini disampaikan oleh Darren Hanan, salah satu santri yang sukses lolos dalam ujian terbuka 30 Juz tempo hari. Pemateri langsung menjawan dengan cukup gamblang yang pada kesimpulan, silahkan kalian menjadi apa saja, menjadi dokter, menjadi pilot, penjadi akademisi atau apa saja, namun pondasi utama kita adalah penghafal Al-Qur’an.
Pertanyaan yang juga tidak kalah menarik adalah saat santri bertanya, apakah boleh, ketika kita menghafal motivasi kita bukan karena Allah, tapi karena ingin mendapat beasiswa misalnya, atau mendapat kedudukan di dunia?, pemateri kemudian menjawab bahwa secara ushul, atau mendasarkan, harusnya kita menghafal untuk mencari ridho Allah, namun tidak semua bisa sampai ke titik ini, butuh proses yang panjang, maka saat antum hari ini berada diposisi niat karena ingin sesuatu atau keduniaan, jangan berhenti, terus berproses hingga sampai pada titik, ikhlas lillahi ta’aala.
Menutup paparan dan motivasi sore ini, beliau mengutip ayat yang sangat menggugah, khususnya bagi santri awal Ma’had Tahfidh Al-Qur’an, ayat ini sering dibacakan hampir disetiap kesempatan oleh Almaghfurlillah ayahan KH. Tidjani Djauhari, dengan suara dan nada khas beliau.
{ وَٱلَّذِینَ جَـٰهَدُوا فِینَا لَنَهدِیَنَّهُم سُبُلَنَا وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلمُحسِنِینَ }
Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. [Surat Al-Ankabut: 69]
