
Kini, perjuangan itu dilanjutkan bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, akhlak, profesionalitas, persatuan, dan pengabdian
Peringati HUT Ke-81 Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Kenang Pendiri Sebagai Sosok Pejuang Kemerdekaan
​SUMENEP — Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada Senin (17/08/2026). Berlangsung di PUSPAGATRA (Pusat Pengembangan Gagasan Dan Kreativitas Santri Putra) Ponpes Al Amien Prenduan, upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB hingga 07.43 WIB tersebut berjalan dengan penuh kedisiplinan dan kekhidmatan.
​Seluruh barisan peleton upacara yang terdiri dari para santri dan mu’allimin (para pengurus) tampak siap dan rapi sejak awal kegiatan. Rangkaian acara diawali dengan pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, pembacaan teks Pancasila, Proklamasi, serta Undang-Undang Dasar 1945.
​Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Sekretaris Umum Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islami (TMI) Al-Amien Prenduan, Ust. Dr. Moh. Hamzah Arsa, M.Pd., menyampaikan amanat penting terkait makna kemerdekaan di era modern. Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, melainkan terbebas dari kebodohan, kemalasan, dan perpecahan.
​Mengutip Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 41, Ust. Hamzah mengingatkan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan ibadah, kepedulian, dan akhlak. Beliau juga menyoroti jejak sejarah perjuangan para ulama, termasuk pendiri Ponpes Al-Amien Prenduan, almarhum KH. Achmad Djauhari Chotib, yang turut berjuang melawan penjajah di wilayah Prenduan.
​”Warisan perjuangan itu harus kita lanjutkan, bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan mengangkat ilmu, akhlak, profesionalitas, persatuan, dan pengabdian,” tegas beliau di hadapan seluruh peserta upacara.
​Secara khusus, Inspektur Upacara memberikan pesan mendalam kepada para santri terkait tantangan zaman modern yang kerap hadir melalui gawai, arus informasi, dan teknologi digital. Santri diminta untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi subjek perubahan yang mampu menyaring informasi, membendung hoaks, dan memanfaatkan media digital untuk dakwah serta kemajuan ilmu pengetahuan.
​”Negeri ini membutuhkan santri yang tidak hanya mampu membaca ayat dan hadits, tetapi juga mampu membaca zaman. Santri Al-Amien harus kuat iman dan ilmunya, kokoh akhlaknya, serta siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” lanjutnya.
​Kegiatan upacara ini diakhiri dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu anggota majelis kyai yakni KH Moh Fikri Husain, Ma. untuk kesejahteraan bangsa serta keselamatan para pahlawan kemerdekaan, sebelum akhirnya Inspektur Upacara dan barisan peleton meninggalkan lapangan pada pukul 07.43 WIB.

Momentum kemerdekaan menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar pesantren untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dengan ilmu, iman, akhlak, persatuan, dan pengabdian untuk negeri.

Senyum dan semangat para petugas upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Ponpes Al-Amien Prenduan.
Di balik suksesnya sebuah upacara, ada kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama yang menjadi bagian dari pengabdian untuk negeri.
Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!
#HUTRI81 #AlAmienPrenduan #PetugasUpacara #KemerdekaanRI #SantriUntukNegeri #IndonesiaMerdeka
