Al-Amien Prenduan, Tahfidz (2/1) – Musyawarah Tengah Tahunan (MUSTETA) RITMA Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Putra Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan resmi dibuka pada pukul 07.15 WIB. Acara yang sarat makna ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu oleh Farhan Arjun Naja, santri kelas 4 MA asal Lampung.

Acara pembukaan secara resmi dibuka oleh Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, K.H. Dr. Ghozi Mubarok Idris, M.A. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan beberapa poin penting yang menjadi renungan bagi seluruh pengurus RITMA.
Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menekankan pentingnya bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah Swt. berikan. Beliau juga mengapresiasi perkembangan yang telah dicapai oleh para pengurus RITMA selama setengah tahun pertama masa bakti. Menurut beliau, pengalaman yang didapat selama menjalankan tugas sebagai pengurus adalah guru terbaik.
Lebih lanjut beliau menjelaskan, untuk menjadi orang arif atau orang yang mengetahui, setidaknya ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu pengalaman dan memperhatikan pengalaman itu dengan baik. “جرب ولاحظ تكن عارفا” Namun yang tak kalah penting dari keduanya, adalah bimbingan (isyrāf) dari seorang guru.

Untuk menekankan pentingnya peran seorang guru, Kiai Ghozi bercerita tentang seorang shufi yang belajar tentang makna takdir. Dia adalah seorang murid sekaligus pedagang. Suatu hari di tengah perjalanan menuju pasar, dia melihat burung cacat yang hanya berdiam di dalam sarangnya. Buta matanya, patah kakinya dan patah sayapnya. Kemudian dia berhenti sejenak, memperhatikan dan berpikir, bagaimana seekor burung ini bisa hidup dengan keadaan seperti ini? Kemudian setelah lama memperhatikan, datanglah burung lain yang berhenti di sarangnya kemudian memberi makan burung cacat tersebut dari paruhnya. Seketika dia bergumam: “Ya Allah, burung yang cacat saja tidak luput dari rezekimu. Mulai saat ini aku akan berhenti berdagang dan mulai akan mendekatkan diri kepada-Mu.” Setelah kejadian tersebut, sang murid langsung datang kepada gurunya sambil menceritakan kisah yang sudah dia lihat ketika di tengah perjalanan. Dia berucap kepada gurunya bahwa dia akan meninggalkan berdagang dan hanya akan beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana burung cacat tadi. Namun, gurunya mengoreksi niat muridnya tersebut dengan bertanya: “Kenapa kamu tidak mau menjadi burung yang memberi makan tersebut?”.
Kisah ini menjelaskan kepada kita, bahwa bimbingan dan koreksi dari seorang guru merupakan hal yang sangat penting.

Beliau juga menyampaikan bahwa dalam kehidupan, manusia akan mengalami tiga tahapan perkembangan. Pertama, dependen: Yaitu orang yang masih bergantung kepada orang lain. Kedua, independen: Yaitu orang yang sudah mandiri. Ketiga, interdependen: Yaitu orang-orang yang saling bergantung, bersatu padu dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Semoga kepengurusan ini bisa bersatu padu, bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Beliau berharap pengurus RITMA dapat mencapai tahap interdependen, yaitu saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Acara MUSTETA ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Mudir Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Putra, Ust. H. Hasbullah Bisri, S.Sos.I.
Share via