Ramadlan: Bulan Rindu Penduduk Langit dan Bumi

Ramadlan: Bulan Rindu Penduduk Langit dan Bumi

Suasana Ramadhan di Indonesia selalu terasa istimewa. Beberapa minggu sebelum bulan suci itu tiba, geliat persiapan sudah terlihat di mana-mana. Iklan sirup M*rj*n mulai menghiasi layar televisi. Pasar-pasar ramai dengan penjual kurma, sirup, dan bahan-bahan takjil. Masjid-masjid mulai bersih-bersih, cek sound, ganti karpet bahkan menambah pengharum bersedia menyambut ramadhan bulan yang penuh berkah ini. Di pesantren-pesantren, para santri dengan semangat mempersiapkan diri. Para santri Tahfidh Al-Amien misalnya, hanya berjeda sehari pasca ujian mid semester II, mereka bersiap menyambut Ramadhan. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, melainkan momentum untuk meraih puncak spiritualitas. Juga penanda, bahwa Perpulangan Ramadhan, segera tiba.

Ramadhan, bagi masyarakat Indonesia, adalah bulan yang dinanti-nanti. Tradisi “megengan” di Jawa, “munggahan” di Sunda, atau “balimau” di Minangkabau menjadi bukti betapa Ramadhan telah menyatu dengan budaya dan kehidupan sehari-hari. Di Madura, tradisi serupa meski tidak sama, disebut Nyekar. Merupakan tradisi membersihkan diri dan lingkungan, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai persiapan menyambut Ramadhan. Masyarakat Madura biasanya melakukan ziarah ke makam leluhur, membersihkan rumah dan masjid, serta mengadakan “ter-ather dan arebbe” atau selamatan.

Namun, di balik keramaian dan kegembiraan itu, ada kerinduan mendalam yang tak terucapkan. Kerinduan akan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka yang dijanjikan Allah di bulan suci ini. Ramadhan bukan hanya milik manusia; ia adalah bulan yang dirindukan oleh langit dan bumi, oleh para malaikat, dan oleh seluruh makhluk Allah.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dalam kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haq, menggambarkan Ramadhan sebagai bulan yang dirindukan oleh para ahli ibadah. Beliau menyatakan, “Langit dan bumi seolah bersukacita menyambut Ramadhan, karena pada bulan ini pintu-pintu rahmat dibuka selebar-lebarnya.” Ramadhan adalah waktu yang paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, dan meraih derajat taqwa. Imam Nawawi, dalam Riyadhush Shalihin, juga menegaskan keagungan Ramadhan, mengutip hadits tentang pengampunan dosa, bulan dilipatgandakannya pahala, dan bulan di mana doa-doa mustajab. Imam Nawawi menulis, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejumlah santri Tahfidh Al-Amien bercengkrama di serambi Masjid Jami Al’Amien.

Kerinduan terhadap Ramadhan bukan hanya milik kita di zaman modern. Para sahabat Nabi dan tabi’in juga menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita dan persiapan matang. Umar bin Khattab RA pernah berkata, “Selamat datang kepada bulan yang membersihkan kami dari dosa-dosa.” (Diriwayatkan dalam Lathaif al-Ma’arif). Sayyidina Umar memahami betul bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Ibnu Abbas RA, sahabat yang dikenal dengan kedalaman ilmunya, menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Beliau berkata, “Langit dan bumi seolah bersukacita menyambut Ramadhan, karena pada bulan ini Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.”

Para tabi’in juga tidak kalah semangatnya. Hasan al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in, pernah berkata, “Ramadhan adalah bulan yang mulia. Barangsiapa yang tidak diampuni dosanya di bulan ini, maka kapan lagi?” Ungkapan ini menggambarkan betapa Ramadhan dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk meraih ampunan Allah. Kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah anugerah yang harus disambut dengan penuh syukur dan persiapan.

Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, bagi masyarakat kita, ramadhan juga merupakan bulan yang mempersatukan umat. Tradisi buka puasa bersama, istilah kita “buber”, belum lagi shalat tarawih berjamaah, dan tadarus Al-Qur’an menjadi pemandangan biasa di masjid-masjid dan musholla, tidak hanya dikota, lebih-lebih di desa-desa.

Para santri di pesantren-pesantren pun menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah. Mereka bangun lebih awal untuk qiyamul lail, menghafal Al-Qur’an, dan mengkaji kitab-kitab klasik. Bagi para santri, Ramadhan adalah bulan yang benar-benar dirindukan. Suasana mengejar takjil, menyiapkan buka bersama, sangat sederhana memang, namun penuh makna. Para santri, diajarkan tentang betapa besar keutamaan Ramadhan dan bagaimana mengisinya.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini, sebagai momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan meraih ridha Allah. Sungguh… hari esok masih lah misteri, dan hari ini, adalah takdir yang kita jalani. Sungguh, umur, adalah rahasia-Nya, penuh harap semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik bagi kita semua, yang disambung dengan ramadhan-ramadhan terbaik selanjutnya, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dirindukan oleh surga. Amin…

Share via

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home
Contact
PSB
Login

Subscribe to Our Newsletters

Jangan lewatkan update terbaru dari kami ! 📩 Subscribe sekarang untuk mendapatkan konten eksklusif, tips bermanfaat, dan info terbaru ke inbox Anda