
Beliau mengajak para santri untuk senantiasa mendoakan guru, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan shalawat, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.
Semoga setiap nasihat yang disampaikan menjadi ilmu yang bermanfaat dan menguatkan langkah dalam meneladani Rasulullah SAW. ﷺ
SUMENEP, AL-AMIEN — Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menggelar Pengajian Umum yang menghadirkan alumni, KH. Hendra Zainuddin El-Qodiri, M.Pd.I., pada Kamis malam (03/09/2026 M / 21 Rabiul Awwal 1448 H).
Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti pelataran Masjid Jami’ Al-Amien Prenduan sejak pukul 19.15 WIB (ba’da shalat Isya berjamaah). Ratusan santri tampak memadati lokasi acara. Rangkaian acara resmi dimulai pada pukul 19.34 WIB saat pembawa acara (MC) membacakan muqaddimah pembuka.
Acara diawali dengan sambutan dari Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA. Dalam dawuhnya, beliau menegaskan pentingnya kebermanfaatan hidup bagi setiap alumni pesantren di manapun mereka berkiprah.
”Alumni pondok kita, mau menjadi siapa pun itu nanti, yang paling penting adalah manfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama), sebagaimana contoh nyata yang ditunjukkan oleh KH. Hendra Zainuddin hari ini,” pesan KH. Ahmad Fauzi Tidjani.
Usai sambutan Pimpinan Pondok, suasana semakin syahdu dengan lantunan shalawat nabi yang dibawakan oleh Majelis Shalawat Al-Jauhar.
Memasuki acara inti, KH. Hendra Zainuddin El-Qodiri, M.Pd.I. menyampaikan tausiyah yang menyentuh hati para santri. Beliau menekankan bahwa salah satu kunci utama untuk menjadi pribadi yang bermanfaat adalah dengan senantiasa menjaga ikatan batin dan mendoakan para guru.
”Untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, salah satu kuncinya adalah tetap mendoakan guru-guru kita, meskipun kita telah lulus dan tidak lagi menimba ilmu secara langsung di hadapan mereka. Tidak menjadi penghalang walau saat di pondok kita merasa kurang pintar atau sedikit nakal; kami sendiri membuktikan bahwa keberhasilan dan kesuksesan hari ini adalah berkat barakah dari guru-guru yang telah mendidik kita,” ungkap KH. Hendra.
Dalam ceramahnya, KH. Hendra juga memaparkan amalan penting sebagai bekal menyambut kematian, di antaranya adalah konsistensi dalam membaca Al-Qur’an serta memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.
Beliau juga menyampaikan riwayat Nabi Sulaiman AS mengenai tanda-tanda ketika malaikat maut hendak menjemput seseorang, seperti timbulnya uban, berkurangnya pendengaran, mata yang mulai membutuhkan kacamata, kulit keriput, penggunaan alat bantu, hingga kebiasaan menyandar saat menghadiri pengajian.
Beliau merangkum beberapa poin penting mengenai pertolongan di alam akhirat:
Saat Sakaratul Maut: Pertolongan terbesar diperoleh apabila kalimat terakhir yang diucapkan adalah kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.
Di Alam Kubur: Surat Al-Mulk menjadi penolong dan pelindung di alam kubur. Dalam kesempatan tersebut, beliau meminta dua orang santri untuk melantunkan Surat Al-Mulk secara langsung dan memberikan apresiasi berupa hadiah kepada keduanya.
Kenyamanan di Liang Lahat: Ditentukan oleh kedisiplinan shalat lima waktu, seraya mendoakan agar seluruh jamaah diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah (iman dan Islam).
Kemudian, KH. Hendra menjelaskan bahwa kelak di Padang Mahsyar, terdapat golongan orang yang dilindungi dari teriknya panas, yaitu mereka yang rajin menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis serta istiqamah mendirikan shalat Tahajjud.
Adapun golongan yang berhak mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an pada hari kiamat adalah
Orang yang gemar membaca Al-Qur’an dan melantunkan shalawat sewaktu hidup di dunia.
Orang yang senantiasa membaca doa setelah mengumandangkan atau mendengarkan azan.
Orang yang konsisten mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
Rangkaian Pengajian Umum Peringatan Maulid Nabi SAW di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin khusyuk oleh syaikh Dr. Ali Qismullah Maryud.

Bukan sekadar lantunan suara, tetapi sebuah ungkapan cinta kepada Rasulullah ﷺ dan harapan agar kita senantiasa mendapat syafaat beliau kelak.
Semoga shalawat yang dilantunkan menjadi keberkahan bagi hati, ilmu, dan langkah kita dalam meneladani Rasulullah ﷺ.

Di penghujung majelis, tangan terangkat dan hati tertunduk, memohon agar setiap ilmu yang disampaikan menjadi keberkahan, setiap langkah mendapat petunjuk, dan kita semua senantiasa dikaruniai iman, Islam, serta husnul khatimah.
Semoga majelis ini menjadi wasilah keberkahan bagi seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. آمين يا رب العالمين.
